Asw.
Saya mendapatkan SMS barusan dari KNRP PUSAT :
"Donasi untuk Palestina telah terkumpul 5,1 M. Target 1 juta USD (dollar
US). Tim Medis BSMI (jaringan KNRP), sudah berangkat bersama Depkes ke
Gaza, Hari ini KNRP membeli mobil Ambulan di Mesir dan Pekan depan akan
mengirim 15 Tim Medis akan berangkat ke Gaza langsung".
Salurkan donasi Ba[pak / Ibu sekalian ke KNRP Kepri di BSM Cab. Batam
no. 1580037191 a.n KNRP KEPRI.
Wassalam,
Ahmad S-Sekretaris KNRP Kepri
http://knrp-kepri.blogspot.com
Selasa, 06 Januari 2009
KNRP membeli Ambulan di Mesir
KENAPA KITA MIKIRIN PALESTINA ??
Langit gelap. Bukan oleh awan yang hendak menurunkan hujan. Angkasa
dipenuhi pesawat sekutu yang bergemuruh. Di dalamnya, para serdadu
masih menyisakan keangkuhan. Mereka baru saja menghancurkan pasukan
Jepang di Front Pasifik. Dari langit, mereka menebar ancaman:
"menyerah, atau hancur".
Beberapa pekan sebelumnya, pengibaran bendera Belanda memicu amarah
para perindu kemerdekaan. Seorang pejuang mencabik warna biru dari
bendera Belanda di Tunjungan, menggemakan pesan bahwa negeri ini tak
rela kembali dijajah. Tentara sekutu menjawab dengan salakan senapan,
bersembunyi di balik alasan "memulihkan perdamaian dan ketertiban".
Jiwa-jiwa merdeka itu berontak. Brigadier Jenderal Mallaby, pimpinan
tentara Inggris di Surabaya, terbunuh. Sekutu murka.
Rakyat gelisah. Surabaya telah lama dikenal sebagai salah satu pusat
perlawanan. Laskar-laskar dari berbagai pesantren dan daerah banyak
yang menjadikan kota ini sebagai markas. Di kota ini pulalah,
Cokroaminoto dan Soekarno muda mendiskusikan cita-cita kemerdekaan.
Suara dari lelaki kurus itu menghapus semua keraguan.
"Saudara-saudara rakyat Surabaya.
Bersiaplah! Keadaan genting.
Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
Jangan mulai menembak.
Baru kalau kita ditembak.
Maka kita akan ganti menyerang mereka itu.
Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah orang yang benar-benar ingin merdeka.
Dan untuk kita saudara-saudara.
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
Semboyan kita tetap.
Merdeka atau mati.
Dan kita yakin, Saudara-saudara.
Akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.
Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
Percayalah Saudara-saudara!
Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!"
Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya itu akan terus dikenang sebagai
tonggak kemerdekaan Indonesia. Semua yang mengaku mencintai negeri ini
tidak layak untuk menjadikan peristiwa itu berdebu di pojokan sejarah.
***
Gaza, peralihan tahun 2008-2009
Kota padat berpenduduk sekitar 1,5 juta orang –mayoritas pengungsi
akibat pengusiran biadab Israel sejak tahun 1948, 1967, dan ekspansi
ilegal pemukiman yahudi yang tak pernah menghormati perjanjian yang
dibuatnya sendiri- itu mencekam. Sejak 27 Desember 2008,
pesawat-pesawat Israel yang dilengkapi dengan bom-bom terbaru kiriman
Washington membombardir kota ini. Ehud Barak, Menteri Pertahanan
Israel, menyatakan bahwa operasi berjudul "Cast Lead" ini akan
memakan
waktu lama. Hingga hari ini, 510 orang telah meninggal dunia dan
ribuan luka-luka. Tidak ada jurnalis diizinkan masuk. Bantuan medis
pun kesulitan.
Demonstrasi bergolak dari Jakarta sampai Eropa. Dari Jordania hingga
Amerika. Posko bantuan dibuka di mana-mana, meskipun masih sangat
kurang dibandingkan kebutuhan penduduk Gaza.
***
Hati saya sakit saat ada yang berkata: "Ngapain kita ngurusin
Palestina, wong negeri kita saja masih amburadul".
Semoga kita tidak melupakan sejarah bahwa Al-Hajj Amin Al Husaini,
Mufti Palestina, adalah orang pertama yang menyiarkan kemerdekaan
Indonesia di radio internasional.
Alasan yang sepintas terlihat nasionalis ini adalah pengkhianatan
kejam pada nasionalisme Indonesia itu sendiri. Preambule Undang-undang
Dasar 1945 mendeklarasikan dengan jelas perlawanan pada segala bentuk
penjajahan. Soekarno dan Hatta berkali-kali menandaskan bahwa
nasionalisme Indonesia tumbuh di taman kemanusiaan. "Jangan pikirkan
hal lain kecuali Indonesia" adalah logika yang menghina keindonesiaan.
Hati saya lebih sakit lagi saat ada yang mengatakan "Itu kan salah
HAMAS sendiri yang tidak mau damai dan menembakkan roket! Media di
Indonesia terlalu berpihak pada Palestina, nih…gak berimbang!"
Lalu, yang berimbang itu seperti apa? Seperti media massa Barat yang
lebih menyalahkan HAMAS, menyiarkan propaganda Israel bahwa serangan
ini adalah respon dari tindakan HAMAS menyerang Israel, menyalahkan
sikap HAMAS yang memutus gencatan senjata? Sepertinya kita harus
menelaah peringatan Finkelstein, seorang ilmuwan Yahudi, dalam bukunya
Beyond Chutzpah: On the Misuse of Anti-Semitism and Abuse of History
dan Image and Reality of Israel-Palestinian Conflict. Sejarah telah
dibajak untuk tidak pernah mengkritisi Israel dan media massa pun
tidak bebas dari pembajakan ini. Untuk melihat bias media barat dalam
isu Palestina, silakan buka www.ifamericansknew .org .
Bahkan, menurut saya, media di Indonesia masih terlalu berpihak pada
Israel. Tidak ada yang menyebutkan fakta bahwa pemutusan gencatan
bersenjata oleh HAMAS itu didahului oleh surat protes gerakan
perlawanan itu atas terbunuhnya 4 orang petani di Gaza oleh tentara
Israel. Tidak ada yang mengingatkan bahwa Israel terus melanggar
perjanjian damai yang disepakatinya sendiri dengan membiarkan
pemukiman ilegal terus tumbuh. Kita juga tak boleh lupa dengan tembok
pemisah apartheid Israel yang memutus akses rakyat Palestina pada
kebutuhan vital kehidupan. Belum lagi blokade Gaza yang lebih kejam
dari Blokade Berlin pada masa Perang Dingin.
"Itu kan salah HAMAS sendiri yang tidak mau damai…"
Sampaikan pernyataan itu pada Bung Tomo dan para pendiri negeri ini.
Alhamdulillah, para pendiri negeri ini menolak iming-iming perdamaian
palsu di bawah ketiak Ratu Belanda. Soekarno bahkan menantang: "Ini
dadaku, mana dadamu!"
Kalau kita menggunakan logika yang sama, berarti kita mendukung Agresi
Militer Belanda pada tahun 1948. "Itu kan salah para pejuang
kemerdekaan Indonesia yang tidak mau damai!"
Tidak banyak yang mengingatkan bahwa Israel berdiri dengan berkubang
darah pembersihan etnis yang menghalalkan pembantaian dan pengusiran
terhadap penduduk asli Palestina (Ilan Pappe: The Ethnic Cleansing of
Palestine ). Komunitas Yahudi yang hidup dalam perdamaian di bawah
Khilafah Utsmaniyah tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan
saudara-saudara mereka yang mengungsi dari kebiadaban Eropa dan
membawa ide rasis radikal untuk mendirikan Israel (Amy Dockser Marcus,
Jerusalem 1913). Bayangkan, komunitas yahudi saat itu yang sekecil
komunitas muslim di Swedia saat ini tiba-tiba menuntut Negara sendiri
dengan luas wilayah yang melebihi luas wilayah penduduk aslinya. Kalau
muslim di Swedia tiba-tiba menuntut mendirikan Negara Islam, mereka
pasti segera dicokok dan dilabeli teroris.
Memori pembantaian ini dihapus dari sejarah dunia dan dari kesadaran
rakyat Israel. Pada saat yang bersamaan, kenangan pahit ini terus
hidup di antara rakyat Palestina. Maka, sangat sulit bagi orang
Palestina untuk menerima perdamaian yang tidak pernah berpihak pada
mereka, lha wong keberadaan Israel saja tidak legal! Wajar jika
popularitas HAMAS semakin lama justru semakin meningkat.
Indonesia saat itu tegas tidak mengakui Israel karena melihat fakta
ini. Sayang, kini banyak yang sudah lupa. Banyak yang terjebak dalam
narasi fiktif "Israel yang cinta damai terancam keberadaannya oleh
HAMAS yang ekstrimis yang tidak mau damai".
Kalaupun kita harus menerima fakta bahwa berdasarkan hukum rimba
Israel itu eksis, tidak berarti bahwa kita berhak menyalahkan mereka
yang menghendaki perdamaian sejati yang lahir dari kemerdekaan. Saya
mendukung proses perdamaian, tapi harus dengan dialog yang adil dan
terbuka yang melibatkan HAMAS sebagai kekuatan riil di Timur Tengah.
Tidak sekedar perjanjian sepihak yang dibuat AS dan Israel lalu
dipaksakan pada Palestina.
Kemanusiaan. Keindonesiaan. Islam. Ketiganya memaksa saya berpihak
pada yang lemah dan tertindas.
Keajaiban dari Palestina
Posted by: anugerah_w on Tuesday, December 30, 2008 - 06:07
Hudzaifah.org - Anak itu nyalakan api
Kini berkobar dan membakar
Di parasnya Agama memancar
Dan cahaya Alhaq bersinar
Kedua tangannya menghunus pedang keberanian
Atau bom kaca yang menggelegar
"Ananda, telah kuserahkan engkau kepada Tuhan Penguasa Qadar
Berjihadlah dengan tegar
Karena kezaliman pasti kan buyar
Esok semua algojo penyiksa kan jatuh terkapar
Dan bendera Tauhid kan berkibar
Nantikan dengan sabar"
Ghazi Khalid Alhajiji
dalam Atthiflu qad Auqada Naraha
Keajaiban Kebangkitan
Palestina. Ajaib bangsa yang satu ini. Mereka miskin, tetapi mampu
memberi banyak kepada saudara-saudara Arab mereka, dunia Islam dan
ummat manusia. Mereka terjajah, tetapi mampu memberi pelajaran paling
mahal, bagaimana mereka punya jiwa merdeka sebelum tubuh mereka
terbebaskan. Ajaib pemuda mereka, melecehkan dunia yang degil, korup
dan hipokrit dengan sindiran paling nyinyir; mengukir kematian mereka
sendiri dengan guratan paling artistik. Ya, seni kematian paling
spektakuler di jaman ini.
Alangkah panjang dusta yahudi, menyihir dengan sedengki-dengki sihir
agar kaum Muhajirin, di Madinah, kala itu, tak lagi dikaruniai
anak-anak. Allah memberi jawaban telak; lahirlah anak laki-laki
pertama kaum Muhajirin, Abdullah bin Zubair. Bapaknya, Zubair bin
Awwam, adalah salah seorang pionir dalam Islam. Ibunya, Asma, panitia
hijrah, di hari-hari haidhnya yang pertama. Kakeknya Abu bakar Shiddiq
yang kesertaannya bersama Rasul SAW abadi tercatat dalam Al Quran,
khususnya dalam hijrah yang agung (QS. At taubah : 40).
Ya, besar nian kedunguan Yahudi yang mengatakan, "Tangan Allah
terbelenggu,
bangsa Palestina yang berani serta bangsa yang sejalan dan sejiwa,
lebih dari satu Khansa dan ia akan terus berikan beribu Khansa,
Sumayyah, Hanzhalah, Ja'far, Zaid dan beribu Usamah. Mereka yang
menikmati benar kenikmatan syahid dan kebanggaan diangkatnya keluarga
mereka sebagai syuhada, orang-orang yang menikmati panjangnya hidup
dalam kematian mereka. Bahkan tak patut disebut mati.
Engkau yang bersedih wahai dunia yang jauh, jangan menambah sedih
dengan tercenung begitu lama. Dunia tak pernah berubah di tangan
orang-orang pengecut. Ia hanya maju dan merdeka di tangan para
pemberani. Salah satu kedermawanan bangsa Palestina ialah keberanian
mereka mendobrak mitos Yahudi adalah segala-galanya.
Apa yang diajarkan dunia beradab kepada kita? Kesopanan,
intelektualitas, etika, hak asasi manusia, kesetaraan? Lihatlah,
bagaimana mereka telah menyihir dan memutarbalik makna. Siapa yang
menyihir begitu banyak bangsa untuk percaya atau sekurang-kurangnya
menggunakan istilah penjajahan (kolonialisme) dengan pemakmuran
(isti'mar), teror sebagai penyelamatan, da'wah sebagai teroris,
keshalihan sebagai keterbelakangan. Mereka ajarkan kita untuk
memisahkan politik dari agama dan sebaliknya. Mungkin itu benar bila
dikaitkan sejarah agama-agama yang para pemukanya (rijalud dien)
menjadi pembenar kedzaliman raja-raja tanpa mahkota. Mereka membuat
mitos dan sabda untuk membenarkan kedzaliman raja bermahkota.
Bagaimana mungkin politik dikosongkan dari agama dan agama dijauhkan
dari politik, sementara seluruh gagasan dari membangun dan
mempertahankan negara Zionis, semua dilandasi sabda-sabda, ayat-ayat,
semangat dan klaim keagamaan.
Keajaiban Kepunahan
Presidan Benyamin Franklin mengingatkan bangsanya untuk tidak
memasukkan sepotong pun elemen Yahudi ke dalam sistem mereka. Ternyata
mereka sangat pelupa dan kini seluruh kelelahan mereka menjadi
sia-sia, karena hanya menuruti arahan dan bisikan ular beludak yang
satu ini. Rupanya bid'ah juga menimpa wilayah politik dan bangsa yang
satu ini. Mereka habis-habisan membela terorisme atas nama negara.
Kehancuran suatu bangsa dan kepunahan peradaban mereka tidak bermula
dari keterbelakangan teknologgi, kelemahan tentara, kemiskinan sumber
daya alam atau kemiskinan dana. Semua itu bisa terjadi dengan satu
kata: penyimpangan. Dan, penyimpangan itu dapat dijabarkan sebagai
kedzaliman. Dan kedzaliman dapat terjadi antara hamba terhadap
tuhannya, seperti kemunafikan, kekafiran dan kemusyrikan (dzulmun adziem).
Kedzaliman bisa terhadap sesama manusia, seperti pembunuhan, fitnah,
pencemaran nama baik, pencurian dan perampasan harta pribadi dan
publik (korupsi), monopoli sumber-sumber kehidupan, penimbunan barang
saat diperlukan orang banyak (ihtikar) dan berbagai langkah yang
merugikan masyarakat. Kedzaliman dapat diarahkan kepada diri sendiri,
seperti mengikuti hawa nafsu; mengikuti konsumsi khamr, bangkai, babi,
uang haram, seks bebas, seks sejenis.
Pada enam peradaban, kita dapatkan begitu banyak pelajaran, mengapa
mereka punah dengan mengenaskan. Surat Hud memuat kiprah kaum Nabi
Nuh, Kaum Aad, tsamud, bangsa Madyan, kaum Nabi Shalih, kaum Firaun.
Semua dibinasakan bukan karena krisis, tetapi justru karena krisis
kezaliman. "...dan tiadalah Kami mendzalimin mereka, akan tetapi
merekalah yang mendzalimi diri sendiri... dan demikianlah hukuman
tuhanmu apabila Ia menghukum negeri-negeri dalam keadaan dzalim...
(QS. Hud : 101).
Bagi pemimpin seati, kecemasan akan munculnya penyimpangan menjadi
begitu berat. Rasulullah berkata, "Aku dibuat beruban oleh surat Hud
dan saudara-saudaranya.
mardawaih). Dan itu artinya keharusan memelihara diri dari berbagai
penyimpangan yang telah menyebabkan binasanya ummat-ummat terdahulu.
Ketika Perancis dikalahkan Jerman dalam Perang Dunia II, Jenderal De
Gaudle yang ditanya mengapa itu terjadi, dengan tegaas menjawab: "Ia
telah tertaklukkan (secara moral) sebelum tertundukkan (secara
militer)" (inhilal qablal Ihtilal).
Keajaiban Kemunkaran
Apakah semua arogansi dan kejemawaan dunia beradab serta polisi dunia
ini merupakan refleksi kekuatan yang makin mapan, ataukah
hentakan-hentakan akhir dengan kekuatan penuh seperti yang terjadi
pada ayam, sapi atau kambing yang disembelih? Allahu'alam. Yang jelas
dunia beradab telah tersembelih oleh begitu banyak pisau jagal
peradaban. Zina, kebebasan dan penyimpangan seksual yang menjadi syiar
dunia modern. Khamr dan candu yang mejadi tempat pelarian paling aman.
Sogok, suap dan KKN menjadi jalan paling singkat menuju kekayaan.
Pelecehan terhadap nilai-nilai samawi, terhadap iman dan keshalihan
yang menjadi syarat bagi predikat modern. Menjilat, memfitnah, dan
kolaborasi bagi kepentingan kekuatan asing telah menjadi marketing dan
promosi paling jitu dalam karir pribadi. Semua ini siap melibas
peradaban-peradaban besar kontemporer yang dengan tegas oleh Sayid
Quthb, Malik bin Nabi dan Almaududi dinafikkan dari daftar peradaban
karena memang tidak beradab.
Apa yang menyebabkan mereka begitu cemas dan gemas kepada dunia Islam
kita? Telah terjadi sesuatu. Bila instrumen utama al ghazwul fikri
yang tiga (pers, militer, dan kampus PT), yang paling efektif ternyata
menampakkan perlawanan, maka cukup beralasan bagi kemurkaan mereka.
Kampus yang mereka harapkan menjadi mesin perubah warba generasi muda
(dan sebagian berhasil mereka lakukan), ternyata lebih menjadi ajang
da'wah yang dinamis, progresif dan kondusif. "Sesungguhnya kami tidak
takut pada kekuatan sosialis, kaum revolusioner atau pun kaum demokrat
di kawasan ini (Arab). Yang kami takutkan hanyalah kekuatan Islam,
raksasa yang pulas tidur dan mulai menggeliat." (Ben Gurion)
Bila kematian mereka menjadi kepastian, apakah dengan demikian bebas
dari tanggung jawab? Tidak, karena Allah ingin melihat apa yang kita
kerjakan. []
Sumber : Buku "Warisan Sang Murabbi, Pilar-Pilar Asasi", KH. Rahmat
Abdullah
http://www.hudzaifa