Posted by: anugerah_w on Tuesday, December 30, 2008 - 06:07
Hudzaifah.org - Anak itu nyalakan api
Kini berkobar dan membakar
Di parasnya Agama memancar
Dan cahaya Alhaq bersinar
Kedua tangannya menghunus pedang keberanian
Atau bom kaca yang menggelegar
"Ananda, telah kuserahkan engkau kepada Tuhan Penguasa Qadar
Berjihadlah dengan tegar
Karena kezaliman pasti kan buyar
Esok semua algojo penyiksa kan jatuh terkapar
Dan bendera Tauhid kan berkibar
Nantikan dengan sabar"
Ghazi Khalid Alhajiji
dalam Atthiflu qad Auqada Naraha
Keajaiban Kebangkitan
Palestina. Ajaib bangsa yang satu ini. Mereka miskin, tetapi mampu
memberi banyak kepada saudara-saudara Arab mereka, dunia Islam dan
ummat manusia. Mereka terjajah, tetapi mampu memberi pelajaran paling
mahal, bagaimana mereka punya jiwa merdeka sebelum tubuh mereka
terbebaskan. Ajaib pemuda mereka, melecehkan dunia yang degil, korup
dan hipokrit dengan sindiran paling nyinyir; mengukir kematian mereka
sendiri dengan guratan paling artistik. Ya, seni kematian paling
spektakuler di jaman ini.
Alangkah panjang dusta yahudi, menyihir dengan sedengki-dengki sihir
agar kaum Muhajirin, di Madinah, kala itu, tak lagi dikaruniai
anak-anak. Allah memberi jawaban telak; lahirlah anak laki-laki
pertama kaum Muhajirin, Abdullah bin Zubair. Bapaknya, Zubair bin
Awwam, adalah salah seorang pionir dalam Islam. Ibunya, Asma, panitia
hijrah, di hari-hari haidhnya yang pertama. Kakeknya Abu bakar Shiddiq
yang kesertaannya bersama Rasul SAW abadi tercatat dalam Al Quran,
khususnya dalam hijrah yang agung (QS. At taubah : 40).
Ya, besar nian kedunguan Yahudi yang mengatakan, "Tangan Allah
terbelenggu,
bangsa Palestina yang berani serta bangsa yang sejalan dan sejiwa,
lebih dari satu Khansa dan ia akan terus berikan beribu Khansa,
Sumayyah, Hanzhalah, Ja'far, Zaid dan beribu Usamah. Mereka yang
menikmati benar kenikmatan syahid dan kebanggaan diangkatnya keluarga
mereka sebagai syuhada, orang-orang yang menikmati panjangnya hidup
dalam kematian mereka. Bahkan tak patut disebut mati.
Engkau yang bersedih wahai dunia yang jauh, jangan menambah sedih
dengan tercenung begitu lama. Dunia tak pernah berubah di tangan
orang-orang pengecut. Ia hanya maju dan merdeka di tangan para
pemberani. Salah satu kedermawanan bangsa Palestina ialah keberanian
mereka mendobrak mitos Yahudi adalah segala-galanya.
Apa yang diajarkan dunia beradab kepada kita? Kesopanan,
intelektualitas, etika, hak asasi manusia, kesetaraan? Lihatlah,
bagaimana mereka telah menyihir dan memutarbalik makna. Siapa yang
menyihir begitu banyak bangsa untuk percaya atau sekurang-kurangnya
menggunakan istilah penjajahan (kolonialisme) dengan pemakmuran
(isti'mar), teror sebagai penyelamatan, da'wah sebagai teroris,
keshalihan sebagai keterbelakangan. Mereka ajarkan kita untuk
memisahkan politik dari agama dan sebaliknya. Mungkin itu benar bila
dikaitkan sejarah agama-agama yang para pemukanya (rijalud dien)
menjadi pembenar kedzaliman raja-raja tanpa mahkota. Mereka membuat
mitos dan sabda untuk membenarkan kedzaliman raja bermahkota.
Bagaimana mungkin politik dikosongkan dari agama dan agama dijauhkan
dari politik, sementara seluruh gagasan dari membangun dan
mempertahankan negara Zionis, semua dilandasi sabda-sabda, ayat-ayat,
semangat dan klaim keagamaan.
Keajaiban Kepunahan
Presidan Benyamin Franklin mengingatkan bangsanya untuk tidak
memasukkan sepotong pun elemen Yahudi ke dalam sistem mereka. Ternyata
mereka sangat pelupa dan kini seluruh kelelahan mereka menjadi
sia-sia, karena hanya menuruti arahan dan bisikan ular beludak yang
satu ini. Rupanya bid'ah juga menimpa wilayah politik dan bangsa yang
satu ini. Mereka habis-habisan membela terorisme atas nama negara.
Kehancuran suatu bangsa dan kepunahan peradaban mereka tidak bermula
dari keterbelakangan teknologgi, kelemahan tentara, kemiskinan sumber
daya alam atau kemiskinan dana. Semua itu bisa terjadi dengan satu
kata: penyimpangan. Dan, penyimpangan itu dapat dijabarkan sebagai
kedzaliman. Dan kedzaliman dapat terjadi antara hamba terhadap
tuhannya, seperti kemunafikan, kekafiran dan kemusyrikan (dzulmun adziem).
Kedzaliman bisa terhadap sesama manusia, seperti pembunuhan, fitnah,
pencemaran nama baik, pencurian dan perampasan harta pribadi dan
publik (korupsi), monopoli sumber-sumber kehidupan, penimbunan barang
saat diperlukan orang banyak (ihtikar) dan berbagai langkah yang
merugikan masyarakat. Kedzaliman dapat diarahkan kepada diri sendiri,
seperti mengikuti hawa nafsu; mengikuti konsumsi khamr, bangkai, babi,
uang haram, seks bebas, seks sejenis.
Pada enam peradaban, kita dapatkan begitu banyak pelajaran, mengapa
mereka punah dengan mengenaskan. Surat Hud memuat kiprah kaum Nabi
Nuh, Kaum Aad, tsamud, bangsa Madyan, kaum Nabi Shalih, kaum Firaun.
Semua dibinasakan bukan karena krisis, tetapi justru karena krisis
kezaliman. "...dan tiadalah Kami mendzalimin mereka, akan tetapi
merekalah yang mendzalimi diri sendiri... dan demikianlah hukuman
tuhanmu apabila Ia menghukum negeri-negeri dalam keadaan dzalim...
(QS. Hud : 101).
Bagi pemimpin seati, kecemasan akan munculnya penyimpangan menjadi
begitu berat. Rasulullah berkata, "Aku dibuat beruban oleh surat Hud
dan saudara-saudaranya.
mardawaih). Dan itu artinya keharusan memelihara diri dari berbagai
penyimpangan yang telah menyebabkan binasanya ummat-ummat terdahulu.
Ketika Perancis dikalahkan Jerman dalam Perang Dunia II, Jenderal De
Gaudle yang ditanya mengapa itu terjadi, dengan tegaas menjawab: "Ia
telah tertaklukkan (secara moral) sebelum tertundukkan (secara
militer)" (inhilal qablal Ihtilal).
Keajaiban Kemunkaran
Apakah semua arogansi dan kejemawaan dunia beradab serta polisi dunia
ini merupakan refleksi kekuatan yang makin mapan, ataukah
hentakan-hentakan akhir dengan kekuatan penuh seperti yang terjadi
pada ayam, sapi atau kambing yang disembelih? Allahu'alam. Yang jelas
dunia beradab telah tersembelih oleh begitu banyak pisau jagal
peradaban. Zina, kebebasan dan penyimpangan seksual yang menjadi syiar
dunia modern. Khamr dan candu yang mejadi tempat pelarian paling aman.
Sogok, suap dan KKN menjadi jalan paling singkat menuju kekayaan.
Pelecehan terhadap nilai-nilai samawi, terhadap iman dan keshalihan
yang menjadi syarat bagi predikat modern. Menjilat, memfitnah, dan
kolaborasi bagi kepentingan kekuatan asing telah menjadi marketing dan
promosi paling jitu dalam karir pribadi. Semua ini siap melibas
peradaban-peradaban besar kontemporer yang dengan tegas oleh Sayid
Quthb, Malik bin Nabi dan Almaududi dinafikkan dari daftar peradaban
karena memang tidak beradab.
Apa yang menyebabkan mereka begitu cemas dan gemas kepada dunia Islam
kita? Telah terjadi sesuatu. Bila instrumen utama al ghazwul fikri
yang tiga (pers, militer, dan kampus PT), yang paling efektif ternyata
menampakkan perlawanan, maka cukup beralasan bagi kemurkaan mereka.
Kampus yang mereka harapkan menjadi mesin perubah warba generasi muda
(dan sebagian berhasil mereka lakukan), ternyata lebih menjadi ajang
da'wah yang dinamis, progresif dan kondusif. "Sesungguhnya kami tidak
takut pada kekuatan sosialis, kaum revolusioner atau pun kaum demokrat
di kawasan ini (Arab). Yang kami takutkan hanyalah kekuatan Islam,
raksasa yang pulas tidur dan mulai menggeliat." (Ben Gurion)
Bila kematian mereka menjadi kepastian, apakah dengan demikian bebas
dari tanggung jawab? Tidak, karena Allah ingin melihat apa yang kita
kerjakan. []
Sumber : Buku "Warisan Sang Murabbi, Pilar-Pilar Asasi", KH. Rahmat
Abdullah
http://www.hudzaifa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar